Subscribe RSS

Archive for June, 2019

Sejarah Perkembangan Koperasi di Indonesia & Dunia Jun 03

Sejarah Perkembangan Koperasi di Indonesi

  • Zaman Belanda

Pada tahun 1908 Raden Soetomo melalui budi utomo berusaha mengembangkan koperasi rumah tangga tetapi kurang berhasil karena dukungan dari masyarakat sangat rendah. Hal ini disebabkan kesadaran masyarakat akan manfaat koperasi masih sangat rendah. Kemudian sekitar tahun 1913, serikat dagang islam yang kemudian menjadi serikat islam, memplopori beridirinya beberapa jenis koperasi industri kecil dan kerajinan, namun juga tidak bisa bertahan lama. Hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya penyuluhan masyarakat, dan miskinnya pemimpin koperasi pada waktu itu.

Setelah itu, perkembangan koperasi di indonesia menunjukkan tanda-tanda yang mengembirakan. Study Club 1928, sebagai kelompok intelektual indonesia sangat menyadari peranan koperasi sebagai salah satu alat perjuangan bangsa. Pada tahun 1939, koperasi di indonesia tumbuh pesat, mencapai 1712 buah, dan terdaftar sebanyak 172 buah dengan anggota sekitar 14.134 orang.

  • Zaman jepang

Pada masa ini usaha-usaha koperasi di indonesia di sesuaikan dengan asas-asas kemiliteran. Usaha koperasi di indonesia dibatasi hanya pada kepentingan perang Asia Timur Raya yang dikorbankan oleh Jepang. Akibat perkumpulan koperasi yang berdiri berdasarkan peraturan belanda harus mendapatkan persetujuan ulang dari suchokan.

Dalam perkembangan selanjutnya, pemerintah jepng menetapkan suatu kebijakan pemisahan urusan koperasi dengan urusan prekonomian.

Fungsi koperasi dalam periode inii benar-benar hanya sebagai alat mendistribusikan bahan-bahan kebutuhan pokok untuk kepentingan perang jepang dan bukan untuk kepentingan rakyat.

  • Periode 1945-1967

Agar perkembangan koperasi benar-benar sejalan dengan semangat pasal 33 UUD 1945. Berkat kerja keras jawatan koperasi, maka perkembangan koperasi pada masa itu mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Namun perkembangan yang mengembirakan ini tidak berlangsung lama, sebagai akibat diterpkannya sistem demokrasi liberal, perkembangan koperasi kemudian menjadi terombang-ambing.

Perkembangan Koperasi di Inggris

Pendirian pertamakali koperasi diinggris tidak lain sebagai akibat pederitaan yang dialami kaum buruh di Eropa akibat revolusi industri yang terjadi diawal abad ke 19. Hal ini mendorong pekerja sebanyak 28 orang untuk menyatukan mereka terbatas dengan membentuk suatu perkumpulan serta mendirikan sebuah toko. Pada tahun 1844 di Rochdale, Inggris didirikan koperasi yang dipelopori oleh Charles howard

Guna memperkuat gerakan koperasi, maka pada tahun 1862, semua koperasi konsumsi dinggris bergabung mnejadi satu pusat koperasi pembelian (Coperative Wholesale Society/CWS)

Perkembangan koperasi di Perancis

Pelopor – peloper koperasi di inggris antara lain Charles Fourier, Luois Blance, dan Ferdinan Lasalle.  Mereka menyadari bahwa setelah terjadinya revolusi di Perancis & perkembangan industri yang menimbulkan kemiskinan maka nasib rakyat perlu diperbaiki dengan membangun koperasi-koperasi yang bergerak dibidang produksi bersama-sama dengan para pengusaha kecil.

Dewasa ini di Perancis terdapat gabungan koperasi konsumsi nasional perancil (Federation National Dess Cooperative de Consummtion), dengan jumlah koperasi yang tergabung sebanyak 467 buah, sementara anggota terdapat 3.600 orang, toko 9.900 buah dan perputaran modal sebesar 3.600 miliar france/tahun.

Perkembangan koperasi di Jerman

Pada tahun 1848 di inggris dan perancis telah mencapai kemajuan industri, sementara di jerman perekonomiannya masih bercorak agraris. Barang –barang impor dari inggirs dan perancis memberikan tekanan berat perkembangan industri di jerman, demikian juga ang dialami oleh petani pedesaan.

Pada saat itu muncul pelopor koperasi di Jerman yakni F.W Raiffeisen, Walikota Flammersflied. Ia menganjurkan agar kaum petani menyatukan diri dalam kumpulan simpan-pinjam.

Koperasi Raiffeisen ini selanjutnya dikenal sebagai koperasi Kredit Pertanian Model Raiffeisen.

Perkembangan Koperasi di Denmark

Denmark merupakan salah satu negara di Eropa yang dapat dijadikan contoh sebagai pengembangan koperasi pertanian. Kegiatan yang dilakukan para petani yang tergabung dalam koperasi pertanian perlu dipelajari sebagai pola yang cocok untuk membangun daerah agrarian

Pada tahun 1952 anggota koperasi mencapai 1 juta orang atau sekitar 30% dari total jumlah penduduk Denmark. Dalam perkembangannya tidak hanya hasil-hasil pertanian yang didistribusikan melalui koperasi, melainkan barang-barang untuk kebutuhan sektor pertanian. Selain koperasi pertanian, di Denmark pada umumnya didirikan oleh serikat pekerja di daerah perkotaan.

Perkembangan koperasi di Swedia

Usaha koperasi di swedia umumnya ditujukan untuk memerangi kekuatan monopoli. Perhatian koperasi di Swedia lebih ditekankan pada penyediaan barang dengan harga murah & mutu baik. Mereka tidak hanya terlibat efektif dalam koperasi, tetapi dengan posisinya sebagai pejabat pemerintah mereka memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada koperasi untuk tumbuh dan berkembang di Swedia.

Rahasia keberhasilan koperasi di Swedia adalah berkat prgoram pendidikan yang disusun secara terratur dan pendidikan orang dewasa di sekolah tinggi rakyat (Folk Higt School). Selain itu juga perhatian diberikan terhadap pendidikan bagi masyarakat di lingkungan darah kerja koperasi

Perkembangan koperasi di Amerika Serikat

Koperasi yang tumbuh di Amerika Serikat dikelola berdasarkan prinsip prinsip Rochdale, namun karena kurang berpengalaman maka banyak koperasi yang gulung tikar. Koperasi yang tumbuh antara tahun 1863 sampai dengan 1869, berjumlah 2.600 buah. Sekitar 57% koperasi ini mengalami kegagalan karena prinsip – prinsip koperasi Rochdale dikenal di Amerika Serikat tahun 1880, sehingga pertumbuhan koperasi secara pesat baru sekitar tahun 1880.

Perkembangan koperasi di Jepang

Koperasi pertamakali beridir di jepang pada tahun 1900 (33 tahun setelah pembaharuan oleh kaisar Meiji), atau bersamaan dengan pelaksanaan undang-undang koperasi industri kerajinan. Walaupun dibawah naman koperasi industri, namun pada hakikatnya koperasi ini juga bergerak dalam bidang pertanian.

Pada tahun 1920 ketika japang sedang membangun dan mengembangkan industrinya, koperasi yang ada benar-benar berfungsi sebagai tulang punggung bagi pembangunan pertanian ang menunjang industrialisasi.

Gerakan koperasi di jepang mengalami kemajuan sangat pesat tahun 1930 an, khusunya ketika penduduk jepang menghadapi krisis ekonomi yag melanda dunia dalam periode 1933-1940.

Organisasi koperasi di jepang yang ada sekarang berkembang berdasarkan undang-undang koperasi pertanian yang mulai berlaku 1947. Hampir semua petani jepang adalah anggota koperasi pertanian.

Perkembangan koperasi di Korea

Perkembangan koperasi di korea, khususnya koperasi-koperasi pedesaan, dimulai pada awal abad ke-20. Koperasi kredit pedesaan misalnya sudah mulai dikenal pada tahun 1907. Koperasi didirikan oleh rakyat untuk membantu petani yang membutuhkan uang untuk membiayai usaha pertaniannya.

Pada tahun 1959 koperasi kredit pedesaan di organisasi oleh pemerintah korea menjadi Bank Pertanian Korea. Namun tahun pada tahun 1957 koperasi pertanian melebarkan sayapnya dalam kegiatan simpan-pinjam.

Pada tahun 1961 dalam rangka pelaksanaan undang-udang koperasi pertanian yang baru, Bank Pertanian Korea dan Koperasi Pertanian digabungkan menjadi satu dengan naman gabungan koperasi pertanian nasional (National Agrecultural Cooperative Federation) disingkat NACF.

Lihat juga

Faktor-faktor keberhasilan dalam proses belajar mengajar

Category: Pendidikan  | Leave a Comment
Pengertian Belajar dan Faktor-faktor Keberhasilan Belajar Jun 02

Pengertian Belajar

Secara singkat Keberhasilan belajar berarti  hasil yang dicapai. Sementara menurut KBBI “hasil yang telah dicapai merupakan penguasaan pengetahuan atau penilaian tentang sesuatu yang dikembangkan oleh mata pelajaran, umumnya ditunjukkan melalui nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru.

pengertian belajar dan faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar

BuahPikiran – Sementara menurut Saifful Bahri Djamarah keberhasilan belajar adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan dengan baik secara individual maupun kelompok.

Berikut beberapa defenisi mengenai belajar menurut sejumlah ahli:

  • Belajar adalah suatu proses aktivitas yang dapat membawa suatu perubahan pada individu
  • Belajar merupakan suatu bentuk pertumbuhan maupun perubahan dalam diri seseorang yang dapat dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru misalkan, dari tidak mengerti menjadi mengerti, timbul pengertian-pengertian baru, perubahan dalam sikap, kebiasaan-kebiasaan dan ketrampilan
  • Belajar merupakan kegiatan anak didik dalam menerima, menanggapi dan menganalisa bahan-bahan pelajaran yang disajikan oleh pengajar, yang barkhir pada kemampuan guna menguasai dalam bahan pelajaran yang disajikan
  • Belajar merupakan suatu rangkaian proses kegiatan respon yang terjadi dalam proses belajar mengajar, yang dapat menimbulkan suatu perubahan tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman & pengetahua yang didapat atau secara singkat dirumuskan oleh Edward, L Walker sebagai perubahan-perubahan sebagai akibat dari pengalaman
  • Belajar adalah mengalami, berarti menghayati suatu yang aktual atau penghayatan yang mana akan menimbulkan respon-respon tertentu dari murid. Pengalaman yang berupa pelajaran akan menghasilkan perubahan berupa (pematangan, pendewasaan)

Dari uraian panjang diatas dapat disimpulkan pengertian tentang belajar. Akan tetapi disamping adanya perbedaan-perbedaan terdapat juga suatu persamaan yang besar. Secara keseluruhan berpendapat belajar adalah proses perubahan, perubahan-perubahan itu tidak hanya sebatas perubahan tingkah laku yang tampak melainkan terdapat juga perubahan yang tidak dapat diamati. Perubaha – perubahan yang terjadi sifatnya bukan yang negatif melainkan perubahan yang terjadi ke arah positif yakni perubahan yang menuju arah kemajuan atau perbaikan.

  • Secara psikologis umum pengertian belajar merupakan suatu proses perubahan yakni perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkunganya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perubahan ciri-ciri tingkah laku dalam pengertian belajar adalah:

  • Perubahan terjadi secara wajar
  • Perubahan sifatnya kontinyu & fungsional
  • Perubahan dalam proses belajar bersifat positif & aktif
  • Perubahan dalam belajar memiliki tujuan dan terarah
  • Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku

Jadi keberhasilan yang dicapai dalam belajar adalah hasil yang dicapai dari proses aktivitas yang dapat membawa suatu perubahan pada individu. Keberhasilan ini dapat diketahui dari tujuan pembelaran yang telah tercapai atau belum.

Proses penentuan keberhasilan belajar

Proses pembelajaran meliputi berbagai komponen-komponen yang terdapat didalamnya harus terwujud secara fungsional & merupakan satu – kesatuan organisasi. Bilamana suatu komponen tidak berfungsi dengan baik, maka hasil yang dicapai pun kurang maksimal. Seperti halnya seorang guru tidak siap untuk menjalankan tugasnya sebagai guru, maka proses pembelajaran akan terhambat begitu sebaliknya. Maka dapat disimpulkan proses pengajaran akan menemui kegagalan yang disebabkan oleh suatu keadaan yang difungsionalkan tersebut.

Dari penjelasan diatas, ada guru disatu pihak & murid dipihak lain, keduanya berada dalam interaksi edukasi dengan posisi, tugas dan tanggung jawab menghantarkan murid kearah kedewasaan dengan memberikan sejumlah ilmu pengetahuan & bimbingan, sementara murid berusaha untuk mencapai tujuan itu melalui bantuan dan bimbingan guru. Dengan berprosesnya semua komponen dengan satu kesatuan & berjalannya fungsi masing-masing akan memaksimlkan proses penentuan kebershasilan pembelajaran.

Menurut Syaiful Bahri dan Aswar zain berpendapatan proses belajar belajar diangap berhasil bilamana:

  • Daya serap terhadap pelajaran yang diajarkan telah dicapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun secara kelompok
  • Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa baik secara individu maupun kelompok

Namun demikian, indikator yang banyak digunakan sebagai tolak ukur terhadap suatu keberhasilan adalah daya serap.

indikator keberhasilan belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar

Hasil yang didapatkan seorang individu merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam (faktor internal) maupun dari luar (eksternal) individu. Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar, penting sekali artinya dalam rangka membantu siswa dalam mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya. Faktor-faktor tersebut diantaranya:

  1. Faktor interen (individu)

Merupakan faktor yang timbul dari diri sendiri (peribadi seseorang) yang meliputi:Faktor jasmani (fisiologis) baik sifatnya bawaan maupun yang didapatkan yang termasuk faktor ini misalnya, kesehatan, penglihatan, pendengaran dll

Faktor intelegen dan bakar, intelegensi merupakan kecakapan yang terdiri tiga jenis kecapakan yang menghadapi dan menyesuaikan keadaan yang baru secara cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep abstrak secara cepat & efektif. Sementara bakat adalah kemampuan untuk belajar, kemampuan itu terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar & berlatih

Minat & motivasi, minat merupakan kecedrungan yang tepat untuk memperhatikan & menyenangi beberapa kegiatan. Sementara motivasi adalah daya penggerak atau pendorong guna melakukan sesuatu. Dengan minat yang besar & adanya motivasi merupakan modal besar untuk mencapai tujuan.

Cara belajar cara belajar seseorang sangat berpengaruh terhadap hasil pembelajaran yang dapatkan. Dengan penggunaan cara belajar yang tepat tentu menghasilkan hal hal dalam belajar dengan baik, belajar tanpa memperhatikan teknik dan faktor fsikologis & kesehatan akan mendapatkan hasil yang kurang memuaskan.

  1. Faktor interen (individu)

Merupakan faktor yang timbul dari diri sendiri (peribadi seseorang) yang meliputi:

  • Faktor jasmani (fisiologis) baik sifatnya bawaan maupun yang didapatkan yang termasuk faktor ini misalnya, kesehatan, penglihatan, pendengaran dll
  • Faktor intelegen dan bakar, intelegensi merupakan kecakapan yang terdiri tiga jenis kecapakan yang menghadapi dan menyesuaikan keadaan yang baru secara cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep abstrak secara cepat & efektif. Sementara bakat adalah kemampuan untuk belajar, kemampuan itu terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar & berlatih
  • Minat & motivasi, minat merupakan kecedrungan yang tepat untuk memperhatikan & menyenangi beberapa kegiatan. Sementara motivasi adalah daya penggerak atau pendorong guna melakukan sesuatu. Dengan minat yang besar & adanya motivasi merupakan modal besar untuk mencapai tujuan.
  • Cara belajar cara belajar seseorang sangat berpengaruh terhadap hasil pembelajaran yang dapatkan. Dengan penggunaan cara belajar yang tepat tentu menghasilkan hal hal dalam belajar dengan baik, belajar tanpa memperhatikan teknik dan faktor fsikologis & kesehatan akan mendapatkan hasil yang kurang memuaskan.

2. Faktor ekstern, merupakan faktor yang timbul dari luar pribadi seseorang (siswa)

Merupakan faktor yang timbul dari luar pribadi seseorang (siswa)

  • Keluarga, keluarga sangat berpengaruh tentang keberhasilan belajar. Tinggi rendahnya pendidikan, besar kecilnya pendapatan & keakraban dalam suatu keluarga akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan anak
  • Sekolah, segala yang terdapat dalam proses belajar disekolah mulai dari kualitas guri, metode penyampaian, kesesuaian kurikulum & keadaan serta fasilitas sekolah juga mempengaruhi hasil belajar.
  • Masyarakat, keadaan masyarakat pada lingkungan sosial turut mendukung hasil belajar
  • Lingkungan sekitar, mulai dari keadaan lingkungan, bangunan sekitar, iklim sekitar, & semua yang terdapat disekitar turut mempengaruhi terhadap hasil belajar

Dari sejumlah faktor-faktor diatas akan memberikan masukan terhadap keberhasilan itu sendiri, bila dapat dimanfaatkan faktor yang mendukung secara maksimal atau sebaliknya.

Penilaian terhadap keberhasilan Belajar

  1. Pengertian penilaian hasil belajar

Penilaian hasil belajar merupakan proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang telah dicapai siswa dengan memperhartikan kriteria tertentu. Hal ini akan mengisyaratkan bahwa obyek yang dinialianya adalah dari perubahan tingkah laku yang mencakup tiga aspek yakni, kognitif, afektif, & psikomotorik.

Melalui penelaian ini akan terlihat sejauh mana tingkat keefektifan dan efisiennya dalam mencapai tujuan pengajaran atau perubahan tingkah laku siswa. Oleh karenanya penilaian hasil belajar saling berkaitan satu sama lain, karena hasil penilaian belajar merupakan akibat dari proses.

2. Fungsi penilaian belajar

  • Guna mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan
  • Sebagai insentif guna meningkatkan belajar
  • Sebagai feedback bagi guru
  • Sebagai informasi untuk keperluan seleksi

3. Jenis penilaian hasil belajar

  • Penilaian formatif

Merupakan penilaian yang dilakukan pada akhir proses belajar-mengajar guna mengetahui tingkat keberhasilan proses belajar-mengajar itu sendiri. Penilaian formatif berorentasi pada proses belajar mengajar & diharapkan guru dapat memperbaiki program pengajaran & strategi pelaksanaannya.

  • Penilaian sumatif

Merupakan penilaian yang dilakukan diakhir unit program yaitiu semester, catur wulan maupun akhir tahun. Tujuan dalakukan penilaian ini adalah untuk mengetahui hasil yang dicapai oleh siswa. Penilaian ini berorentasi pada produk, bukan proses.

  • Penilaian diagnostik

Yaitu penilaian yang dilakukan guna melihat kelemahan-kelemahan siswa & faktor-faktor penyebabnya. Penilaian ini dilakukan guna keperluan bimbingan belajar

  • Penilaian selektif

Merupakan penilaian yang berhubungan untuk keperluan seleksi, seperti ujian saringan untuk masuk lembaga tertentu.

  • Penilaian penempatan

Yaitu penilaian yang ditujukan untuk mengetahui keterampilan prasarat yang diperlukan bagi suatu program belajar dan penguasaan belajar seperti sebelum memulai kegiatan belajar untuk program itu.

Masing masing jenis tersebut memiliki karakteristik tertentu baik bentuk soal, tingkat kesulitan maupun cara pengolahan & pendekatan. Oleh karenanya penyusunan tes harus sesuai dengan tujuan dan fungsinya sebagai alat evaluasi yang diinginkan.

source

Category: Pendidikan  | Leave a Comment