Subscribe RSS
Sejarah Perkembangan Koperasi di Indonesia & Dunia Jun 03

Sejarah Perkembangan Koperasi di Indonesi

  • Zaman Belanda

Pada tahun 1908 Raden Soetomo melalui budi utomo berusaha mengembangkan koperasi rumah tangga tetapi kurang berhasil karena dukungan dari masyarakat sangat rendah. Hal ini disebabkan kesadaran masyarakat akan manfaat koperasi masih sangat rendah. Kemudian sekitar tahun 1913, serikat dagang islam yang kemudian menjadi serikat islam, memplopori beridirinya beberapa jenis koperasi industri kecil dan kerajinan, namun juga tidak bisa bertahan lama. Hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya penyuluhan masyarakat, dan miskinnya pemimpin koperasi pada waktu itu.

Setelah itu, perkembangan koperasi di indonesia menunjukkan tanda-tanda yang mengembirakan. Study Club 1928, sebagai kelompok intelektual indonesia sangat menyadari peranan koperasi sebagai salah satu alat perjuangan bangsa. Pada tahun 1939, koperasi di indonesia tumbuh pesat, mencapai 1712 buah, dan terdaftar sebanyak 172 buah dengan anggota sekitar 14.134 orang.

  • Zaman jepang

Pada masa ini usaha-usaha koperasi di indonesia di sesuaikan dengan asas-asas kemiliteran. Usaha koperasi di indonesia dibatasi hanya pada kepentingan perang Asia Timur Raya yang dikorbankan oleh Jepang. Akibat perkumpulan koperasi yang berdiri berdasarkan peraturan belanda harus mendapatkan persetujuan ulang dari suchokan.

Dalam perkembangan selanjutnya, pemerintah jepng menetapkan suatu kebijakan pemisahan urusan koperasi dengan urusan prekonomian.

Fungsi koperasi dalam periode inii benar-benar hanya sebagai alat mendistribusikan bahan-bahan kebutuhan pokok untuk kepentingan perang jepang dan bukan untuk kepentingan rakyat.

  • Periode 1945-1967

Agar perkembangan koperasi benar-benar sejalan dengan semangat pasal 33 UUD 1945. Berkat kerja keras jawatan koperasi, maka perkembangan koperasi pada masa itu mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Namun perkembangan yang mengembirakan ini tidak berlangsung lama, sebagai akibat diterpkannya sistem demokrasi liberal, perkembangan koperasi kemudian menjadi terombang-ambing.

Perkembangan Koperasi di Inggris

Pendirian pertamakali koperasi diinggris tidak lain sebagai akibat pederitaan yang dialami kaum buruh di Eropa akibat revolusi industri yang terjadi diawal abad ke 19. Hal ini mendorong pekerja sebanyak 28 orang untuk menyatukan mereka terbatas dengan membentuk suatu perkumpulan serta mendirikan sebuah toko. Pada tahun 1844 di Rochdale, Inggris didirikan koperasi yang dipelopori oleh Charles howard

Guna memperkuat gerakan koperasi, maka pada tahun 1862, semua koperasi konsumsi dinggris bergabung mnejadi satu pusat koperasi pembelian (Coperative Wholesale Society/CWS)

Perkembangan koperasi di Perancis

Pelopor – peloper koperasi di inggris antara lain Charles Fourier, Luois Blance, dan Ferdinan Lasalle.  Mereka menyadari bahwa setelah terjadinya revolusi di Perancis & perkembangan industri yang menimbulkan kemiskinan maka nasib rakyat perlu diperbaiki dengan membangun koperasi-koperasi yang bergerak dibidang produksi bersama-sama dengan para pengusaha kecil.

Dewasa ini di Perancis terdapat gabungan koperasi konsumsi nasional perancil (Federation National Dess Cooperative de Consummtion), dengan jumlah koperasi yang tergabung sebanyak 467 buah, sementara anggota terdapat 3.600 orang, toko 9.900 buah dan perputaran modal sebesar 3.600 miliar france/tahun.

Perkembangan koperasi di Jerman

Pada tahun 1848 di inggris dan perancis telah mencapai kemajuan industri, sementara di jerman perekonomiannya masih bercorak agraris. Barang –barang impor dari inggirs dan perancis memberikan tekanan berat perkembangan industri di jerman, demikian juga ang dialami oleh petani pedesaan.

Pada saat itu muncul pelopor koperasi di Jerman yakni F.W Raiffeisen, Walikota Flammersflied. Ia menganjurkan agar kaum petani menyatukan diri dalam kumpulan simpan-pinjam.

Koperasi Raiffeisen ini selanjutnya dikenal sebagai koperasi Kredit Pertanian Model Raiffeisen.

Perkembangan Koperasi di Denmark

Denmark merupakan salah satu negara di Eropa yang dapat dijadikan contoh sebagai pengembangan koperasi pertanian. Kegiatan yang dilakukan para petani yang tergabung dalam koperasi pertanian perlu dipelajari sebagai pola yang cocok untuk membangun daerah agrarian

Pada tahun 1952 anggota koperasi mencapai 1 juta orang atau sekitar 30% dari total jumlah penduduk Denmark. Dalam perkembangannya tidak hanya hasil-hasil pertanian yang didistribusikan melalui koperasi, melainkan barang-barang untuk kebutuhan sektor pertanian. Selain koperasi pertanian, di Denmark pada umumnya didirikan oleh serikat pekerja di daerah perkotaan.

Perkembangan koperasi di Swedia

Usaha koperasi di swedia umumnya ditujukan untuk memerangi kekuatan monopoli. Perhatian koperasi di Swedia lebih ditekankan pada penyediaan barang dengan harga murah & mutu baik. Mereka tidak hanya terlibat efektif dalam koperasi, tetapi dengan posisinya sebagai pejabat pemerintah mereka memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada koperasi untuk tumbuh dan berkembang di Swedia.

Rahasia keberhasilan koperasi di Swedia adalah berkat prgoram pendidikan yang disusun secara terratur dan pendidikan orang dewasa di sekolah tinggi rakyat (Folk Higt School). Selain itu juga perhatian diberikan terhadap pendidikan bagi masyarakat di lingkungan darah kerja koperasi

Perkembangan koperasi di Amerika Serikat

Koperasi yang tumbuh di Amerika Serikat dikelola berdasarkan prinsip prinsip Rochdale, namun karena kurang berpengalaman maka banyak koperasi yang gulung tikar. Koperasi yang tumbuh antara tahun 1863 sampai dengan 1869, berjumlah 2.600 buah. Sekitar 57% koperasi ini mengalami kegagalan karena prinsip – prinsip koperasi Rochdale dikenal di Amerika Serikat tahun 1880, sehingga pertumbuhan koperasi secara pesat baru sekitar tahun 1880.

Perkembangan koperasi di Jepang

Koperasi pertamakali beridir di jepang pada tahun 1900 (33 tahun setelah pembaharuan oleh kaisar Meiji), atau bersamaan dengan pelaksanaan undang-undang koperasi industri kerajinan. Walaupun dibawah naman koperasi industri, namun pada hakikatnya koperasi ini juga bergerak dalam bidang pertanian.

Pada tahun 1920 ketika japang sedang membangun dan mengembangkan industrinya, koperasi yang ada benar-benar berfungsi sebagai tulang punggung bagi pembangunan pertanian ang menunjang industrialisasi.

Gerakan koperasi di jepang mengalami kemajuan sangat pesat tahun 1930 an, khusunya ketika penduduk jepang menghadapi krisis ekonomi yag melanda dunia dalam periode 1933-1940.

Organisasi koperasi di jepang yang ada sekarang berkembang berdasarkan undang-undang koperasi pertanian yang mulai berlaku 1947. Hampir semua petani jepang adalah anggota koperasi pertanian.

Perkembangan koperasi di Korea

Perkembangan koperasi di korea, khususnya koperasi-koperasi pedesaan, dimulai pada awal abad ke-20. Koperasi kredit pedesaan misalnya sudah mulai dikenal pada tahun 1907. Koperasi didirikan oleh rakyat untuk membantu petani yang membutuhkan uang untuk membiayai usaha pertaniannya.

Pada tahun 1959 koperasi kredit pedesaan di organisasi oleh pemerintah korea menjadi Bank Pertanian Korea. Namun tahun pada tahun 1957 koperasi pertanian melebarkan sayapnya dalam kegiatan simpan-pinjam.

Pada tahun 1961 dalam rangka pelaksanaan undang-udang koperasi pertanian yang baru, Bank Pertanian Korea dan Koperasi Pertanian digabungkan menjadi satu dengan naman gabungan koperasi pertanian nasional (National Agrecultural Cooperative Federation) disingkat NACF.

Lihat juga

Faktor-faktor keberhasilan dalam proses belajar mengajar

Category: Pendidikan
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply » Log in